Muara Teweh, 2025 – Pemerintah Kabupaten Barito Utara terus melakukan upaya antisipatif untuk menghadapi ancaman inflasi yang diprediksi dapat menekan daya beli masyarakat. Salah satu langkah strategis yang diluncurkan pemerintah daerah adalah program “Kepak Batara” (Ketahanan Pangan Keluarga Barito Utara), yang bertujuan memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan di tingkat rumah tangga.
Bupati Barito Utara, H. Shalahuddin, menegaskan bahwa pemerintah harus hadir di tengah situasi ekonomi global yang kerap tidak stabil. Ia menyampaikan bahwa inflasi bukan hanya berdampak pada harga kebutuhan pokok, tetapi juga dapat melemahkan struktur ekonomi keluarga jika tidak disikapi dengan langkah yang terencana.
“Kami menyadari bahwa inflasi memiliki potensi besar untuk menggerus kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, Kepak Batara hadir sebagai benteng pertahanan ekonomi keluarga, agar ketahanan pangan tetap terjaga dan masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada pasar,” kata Shalahuddin.
Melalui program ini, setiap rumah tangga didorong untuk memanfaatkan lahan pekarangan dan potensi tanaman lokal yang selama ini kurang dimaksimalkan. Pemerintah mendorong gerakan menanam sayur, buah, tanaman obat, dan ternak kecil sebagai sumber pangan alternatif yang dapat menekan pengeluaran harian.
Pelaksana Proyek Perubahan dalam PKN I BPSDM Provinsi Kalimantan Tengah, Hery Jhon Setiawan, menuturkan bahwa peningkatan kemampuan produksi pangan mandiri adalah strategi kunci untuk menjaga ketahanan ekonomi masyarakat. Dengan memproduksi pangan sendiri, beban biaya kebutuhan pokok dapat berkurang, terutama pada kondisi harga pasar yang tidak stabil.
“Dengan meningkatkan kemampuan keluarga memproduksi sebagian kebutuhan pangannya sendiri, maka tekanan inflasi terhadap pengeluaran rumah tangga dapat direduksi secara signifikan,” jelas Hery Jhon.
Dukungan terhadap program Kepak Batara datang dari berbagai elemen pemerintah, termasuk Wakil Bupati Barito Utara Felis Sonadie Y Tingang dan Sekretaris Daerah Drs. Muhlis. Mereka menilai bahwa sinergi antarwarga dan organisasi masyarakat seperti PKK dan kelompok tani sangat penting untuk memastikan keberhasilan program ini hingga tingkat desa.
Pemerintah berharap Kepak Batara tidak hanya menjadi respon sesaat untuk menghadapi inflasi, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama yang dapat menciptakan budaya mandiri dan kreatif dalam memproduksi sumber pangan keluarga. Program ini dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk menciptakan ketahanan ekonomi masyarakat Barito Utara secara menyeluruh.(Kyl)
